Don’t be afraid of advanced slowly, be afraid of nothing progress (งˆ▽ˆ)ง

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam sebuah karya sastra. Berdasarkan yang diungkapkan Nurgiyantoro (2002: 272) bahasa dalam seni sastra ini dapat disamakan dengan cat warna. Keduanya merupakan unsur bahan, alat, dan sarana yang mengandung nilai lebih untuk dijadikan sebuah karya. Sebagai salah satu unsur terpenting tersebut, maka bahasa berperan sebagai sarana pengungkapan dan penyampaian pesan dalam sastra.

Bahasa dalam karya sastra mengandung unsur keindahan. Keindahan adalah aspek dari estetika. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Zulfahnur, Gaya bahasa dan penulisan merupakan salah satu unsur yang menarik dalam sebuah bacaan. Setiap penulis mempunyai gaya yang berbeda-beda dalam menuangkan setiap ide tulisannya. Setiap tulisan yang dihasilkan nantinya mempunyai gaya penulisan yang dipengaruhi oleh penulisnya, sehingga dapat dikatakan bahwa, watak seorang penulis sangat mempengaruhi sebuah karya yang ditulisnya. Hal ini selaras dengan pendapat Pratikno (1984: 50) bahwa sifat, tabiat atau watak seseorang itu berbeda-beda.

Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.

Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada hakikatnya adalah cara menggunakan  bahasa yang setepat-tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran penulis yang berbeda dari corak bahasa sehari-hari dan bersifat subyektif. Majas dibagi menjadi 4 kelompok yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan dan gaya bahasa pertentangan.

  1. B.       Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan gaya bahasa?
    2. Bagaimana gaya bahasa dalam karya sastra?
    3. Apa saja jenis-jenis gaya bahasa?
  1. C.      Tujuan dan Manfaaat
    1. Untuk menjelaskan hakikat gaya bahasa.
    2. Untuk mendiskripsikan gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra.
    3. Untuk menjelaskan macam-macam gaya bahasa.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  Hakikat Gaya Bahasa

Gaya bahasa atau style adalah pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseoarang dalam bertutur atau menulis; pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu: keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra: cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan ( Hasan dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa juga bermakna cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa (Keraf dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa ini bersifat individu dan dapat juga bersifat kelompok. Gaya bahasa yang bersifat individu disebut idiolek, sedangkan yang bersifat kelompok (masyarakat) disebut dialek. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan watak, dan kemampuan seseorang ataupun masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.

  1. B.  Gaya Bahasa dalam Karya Sastra

Sudjiman (1998: 13) menyatakan bahwa sesungguhnya gaya bahasa dapat digunakan dalam segala ragam bahasa baik ragam lisan, tulis, nonsastra, dan ragam sastra, karena gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi, secara tradisional gaya bahasa selalu ditautkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra.

Jorgense dan Phillips (dalam Ratna, 2009: 84) mengatakan bahwa gaya bahasa bukan sekedar saluran, tetapi alat yang menggerakkan sekaligus menyusun kembali dunia sosial itu sendiri. Lebih jauh menurut Simpson (dalam Ratna, 2009: 84) gaya bahasa baik bagi penulis maupun pembaca berfungsi untuk mengeksplorasi kemampuan bahasa khususnya bahasa yang digunakan. Stilistika dengan demikian memperkaya cara berpikir, cara pemahaman, dan cara perolehan terhadap substansi kultural pada umumnya.

Retorika merupakan penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis yang diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa, yaitu bagaimana seorang pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasannya. Pengungkapan bahasa dalam sastra mencerminkan sikap dan perasaan pengarang yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap dan perasaan pembaca. Untuk itu, bentuk pengungkapan bahasa harus efektif dan mampu mendukung gagasan secara tepat yang memiliki segi estetis sebagai sebuah karya. Kekhasan, ketepatan, dan kebaruan pemilihan bentuk-bentuk pengungkapan yang berasal dari imajinasi dan kreatifitas pengarang dalam pengungkapan bahasa dan gagasan sangat menentukan keefektifan wacana atau karya yang dihasilkan. Hal ini bisa dikatakan bahwa bahasa akan menentukan nilai kesastraan yang akan diciptakan.

Karya sastra adalah sebuah wacana yang memiliki kekhasan tersendiri. Seorang pengarang dengan kreativitasnya mengekspresikan gagasannya dengan menggunakan bahasa dengan memanfaatkan semua media yang ada dalam bahasa. Gaya berbahasa dan cara pandang seorang pegarang dalam memanfaatkan dan menggunakan bahasa tidak akan sama satu sama lain dan tidak dapat ditiru oleh pengarang lain karena hal ini sudah menjadi bagian dari pribadi seorang pengarang. Kalaupun ada yang meniru pasti akan dapat ditelusuri sejauh mana persamaan atau perbedaan antara karya yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat diketahui mana karya yang hanya sebuah jiplakan atau imitasi.

Pemilihan bentuk bahasa yang digunakan pengarang akan berkaitan fungsi dan konteks pemakaiannya. Pemakaian gaya dalam sastra selalu dikaitkan dengan konteks yang melatar belakangi pemilihan dan pemakaian bahasa. Semua gaya bahasa itu berkaitan langsung dengan latar sosial dan kehidupan di mana bahasa itu digunakan.

Melalui gaya bahasa pembaca dapat menilai kepribadian dan kemampuan pengarang, semakin baik gaya bahasa yang digunakan, semakin baik pula penilaian terhadapnya. Sering dikatakan bahwa bahasa adalah pengarang yang terekam dalam karya yang dihaslkannya. Oleh sebab itu setiap pengarang mempunyai gayanya masing-masing.

 

  1. C.  Jenis-Jenis Gaya Bahasa dalam Karya Sastra

Beberapa ragam majas dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:

  1. Gaya bahasa perbandingan, terdiri dari: Metafora, personifikasi, asosiasi, alegori, parable, metonomia, litotes, sinekdopke (dibagi menjadi 2, pares pro toto dan totem pro tate), eupisme, hiperbola, alusio, antonomasia, perifrase, simile, sinestesia, aptronim, hipokorisme, dipersonifikasi, disfemisme, fabel, eponym, dan simbolik.
  2. Gaya bahasa sindiran, terdiri dari: Ironi, sinisme, sarkasme, innuendo, dan satire.
  3. Gaya bahasa penegasan, terdiri dari: Pleonasme, repetisi, paralelisme, klimaks, anti-klimaks, inversi, elepsi, retoris, koreksio, asimdeton, polisindeton, interupsi, eksklamasio, enumerasio, preterito, apofagis, pararima, aliterasi, tautologi, sigmatisme, antanaklasis, alonim, kolokasi, silepsis, dan zeugma.
  4. Gaya bahasa pertentangan, terdiri dari: Paradoks, oksimoron, antithesis, kontradiksio interminis, anakronisme.
  1. 1.    Gaya bahasa perbandingan
    1. a.    Metafora

Penggunaan perbandingan langsung dalam mengungkapkan perasaan penulis. Benda yang dibandingkan biasanya memiliki persamaan sifat.

Contoh :

  • Dewi malam telah keluar dari peraduannya. (dewi malam menggantikan bulan).
  • Demi menghidupi keluarganya, ia rela memeras otak dan membanting tulang. (memeras otak berarti berpikir keras, membanting tulang berarti bekerja keras).
  1. b.   Personifikasi

Gaya pengorangan,menganggap benda mati atau tak bergerak dilukiskan seperti manusia.

Contoh :

  • Karena terdesak, pisau pun ikut bicara.
  • Bulan mengintip dibalik awan, sementara angin semilir membelai rambutku.
  1. c.    Asosiasi

Gaya bahasa ini memberikan perbandingan terhadap benda yang sudah disebutkan. Perbandingan ini memberikan gambaran sehingga hal yang disebutkan menjadi lebih jelas.

Contoh :

  • Mukanya pucat bagai bulan kesiangan.
  • Suaranya merdu bagai bulu perindu.
  1. d.   Alegori

Penggunaan perbandingan secara utuh, biasanya berupa kiasan.

Contoh :

  • “…Aduhai bunga melati. Putih berseri. Ingin kusentuh kelopakmu. Semerbak wangimu kurindu. Mahkotamu menjulai lunglai permai. Tidurku selimutkan mimpi atasmu…”
  1. e.    Simbolik

Gaya yang menggunakan bahasa tertentu sebagai symbol atau lambang.

Contoh :

  • Melati lambing kesucian.
  • Bunglon lambing bagi orang yang tidak tetap pendiriannya.
  1. f.     Metonimia

Penggunaan ungkapan sebagai pengganti nama atau keadaan yang sebenarnya.

Contoh ;

  • Ia tengah menyasikan film Si Pincang.
  • Si Belang datang
  1. g.    Litotes

Penggunaan ungkapan yang berlawanan dengan keadaan sebenarnya dengan maksud untuk merendahkan diri.

Contoh :

  • Bila ada waktu mampirlah ke gubuk kami.
  • Usaha kami ini hanya setitik kecil dari samudra yang luas.
  1. h.   Sinekdoke

Penggunaan gaya dengan cara menyebutkan bagian atau keseluruhan. Gaya ini dibagi menjadi dua macam, yaitu :

1)   Pars pro toto

Penggunaan bagian suatu benda atau keadaan sedangkan yang dimaksud adalah keseluruhan. Contoh : Hamdan memelihara dua puluh ekor lembu.

2)   Totem proparte

Gaya bahasa yang terjadi oleh sebab menyebutkan keseluruhan benda, sedangkan yang diaksud adalah sebagian. Contoh : Rakyat Indonesia bahu-membahu melawan Belanda, Pati merebut piala bergilir Gubernur Jawa Tengah dalam perlombaan itu.

  1. i.      Eufemisme

Gaya bahasa pelembut, dengan maksud untuk berlaku sopan.

Contoh :

  • Amin tidak naik kelas karena kurang pandai (bodoh)
  • Kami mohon izin ke belakang sebentar
  1. j.     Hiperbola

Penggunaan ungkapan dengan cara yang berlebihan.

Contoh :

  • Suaranya menggelegar membelah angkasa.
  • Kenaikan harga BBM mencekik leher.
  1. k.   Parifrasis

Penggunaan sepatah kata pengganti dengan serangkaian kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu.

Contoh :

  • Pagi-pagi berangkatlah kami. Kalimat ini diganti : ketika sang surya keluar dari peraduannya, berangkatlah kami.
  • Kereta api berlari terus. Kalimat ini diganti : kuda besi itu berlari terus

 

  1. 2.        Gaya Bahasa Sindiran
    1. a.    Ironi

Ialah salah satu majas sindiran yang dikatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud menyindir orang dan diungkapkan secara halus. Contoh-contoh:

  • Hambur-hamburkan terus uangmu itu agar bias menjadi jutawan.
  • Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya.

 

  1. b.   Sinisme

Gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari gaya ironi.

Contoh :

  • Otakmu otak udang.
  • Harum benar bau badanmu, ya?

 

  1. c.    Sarkasme

Gaya bahasa sindiran yang terkasar dimana memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan.

Contoh:

  • Soal semudah ini saja tidak bisa dikerjakan. Goblok kau!
  1. 3.        Gaya Bahasa Penegasan
    1. a.    Pleonasme

Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Contoh-contoh:

  • Dia turun ke bawah => Dia turun
  • ·      Dia naik ke atas => Dia naik
  1. b.    Paralelisme

Pengulangan kata-kata untuk menegaskan yang terdapat pada puisi. Bila kata yang diulang pada awal kalimat dinamakan anaphora, dan jika terdapat pada akhir kalimat dinamakan evipora.

Contoh-contoh:

  • Kau berkertas putih

Kau bertinta hitam

Kau beratus halaman

Kau bersampul rapi.

  • Kalau kau mau aku akan datang

Jika kau menginginkan aku akan datang

Bila kau minta aku akan datang

Andai kau ingin aku akan datang

 

  1. c.    Interupsi

Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan sisipan di tengah-tengah kalimat pokok, denagn maksud untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat tersebut.

Contoh: Tiba-tiba Ia-kekasih itu- direbut oleh perempuan lain.

 

  1. d.   Retoris

Gaya bahasa penegasan ini mempergunakan kalimat Tanya-tak-bertanya. Sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek.

Contoh-contoh:

  • Mana mungkin orang mati hidup lagi?!
  • Inikah yang kau namai bekerja?!

 

  1. e.    Koreksio

Dipakai untuk membetulkan kembali apa yang salah diucapkan baik yang disengaja maupun tidak.

Contoh-contoh:

  • Dia adikku! Eh, bukan, dia kakakku!
  • Gedung Sate berada di Kota Jakarta. Eh, bukan, Gedung Sate berada di Kota Bandung.

 

  1. Asimdeton

Beberapa hal keadaan atau benda disebutkan berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.

Contoh:

  • Meja, kursi, lemari ditangkubkan dalam kamar itu.
  1. 4.      Gaya Bahasa Pertentangan
    1. a.       Paradoks

Majas ini terlihat seolah-olah ada pertentangan.

Contoh:

  • Gajinya besar, tapi hidupnya melarat.

Artinya, uang cukup, tetapi jiwanya menderita.

 

  1. b.      Antitesis

Majas pertentangan yang menggunakan paduan kata yang berlawanan arti.

Contoh:

  • Tua muda, besar kecil, semuanya hadir di tempat itu.

 

  1. c.       Kontradiksio Interminis

Yaitu majas yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudahdikatakan semula. Apa yang sudah dikatakan, disangkal lagi oleh ucapan kemudian.

Contoh:

  • Semuanya sudah hadir, kecuali Si Amir.

Kalau masih ada yang belum hadir, mengapa dikatakan “semua” sudah hadir.

BAB III

PENUTUP

  1. A.      Kesimpulan

Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.

Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada hakikatnya adalah cara menggunakan  bahasa yang setepat-tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran penulis yang berbeda dari corak bahasa sehari-hari dan bersifat subyektif. Majas dibagi menjadi 4 kelompok yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan dan gaya bahasa pertentangan.

Gaya bahasa perbandingan meliputi : metafora, personifikasi, asosiasi, alegori, simbolik, metonimia, litotes, sinekdoke (pars pro toto dan totem proparte), eufemisme, hiperbola, parifrasis. Sedangkan gaya bahasa sindiran meliputi : ironi, sinisme,dan sarkasme. Gaya bahasa penegasan meliputi : pleonasme, paralelisme, interupsi, retoris, koreksio, asimdeton. Gaya bahasa pertentangan meliputi : paradoks, antitesis, dan kontradiksio interminis.

  1. B.       Saran

Gaya bahasa dipakai pengarang hendak memberi bentuk terhadap apa yang ingin disampaikan. Dengan gaya bahasa tertentu pula seorang pengarang dapat mengekalkan pengalaman rohaninya dan penglihatan batinnya, serta dengan itu pula ia menyentuh hati pembacanya. Karena gaya bahasa itu berasal dari dalam batin seorang pengarang maka gaya bahasa yang digunakan oleh seorang pengarang dalam karyanya secara tidak langsung menggambarkan sikap atau karakteristik pengarang tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

 

Murtono. 2010. Menuju Kemahiran Berbahasa Indonesia. Surakarta : UNS Press.

Agepe. 2008. Majas. Tersedia di http://goesprih.blogspot.com//. Diunduh pada tanggal 1 Maret 2012.

Saefu Zaman. 2011. Macam-Macam Gaya Bahasa Indonesia. Tersedia di http://situsbahasa.com//. Diunduh pada tanggal 1 Maret 2012.

Karsono. 2011. Ragam Gaya Bahasa. Tersedia di http://karsonojawul.blog.uns.ac.id//. Diunduh pada tanggal 1 Maret 2012.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: