Don’t be afraid of advanced slowly, be afraid of nothing progress (งˆ▽ˆ)ง

BAB 1

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Berdasarkan sarananya bahasa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bahasa tulis dan bahasa lisan. Bahasa tulis adalah bahasa yang dituliskan atau dicetak, berupa suatu karangan. Sedangkan bahasa lisan adalah bahasa yang diucapkan atau dituturkan, berupa pidato atau percakapan. Dalam bahasa tulis, paragraf merupakan bagian dari suatu karangan dan bahasa lisan merupakan bagian dari suatu tuturan.

Di bidang bentuk pada umumnya paragraf terdiri atas sejumlah kalimat, atau dengan kata lain merupakan kumpulan dari sejumlah kalimat, terdapat penanda-penanda hubungan yang menandai hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, sehingga paragraph itu merupakan satu kesatuan yang padu.

Di bidang makna setiap kalimat yang satu berhubungan dengan informasi pada kalimat yang lain sehingga paragraph itu membentuk satu kesatuan informasi yang padu. Kepaduan bentuk dan informasi itu merupakan syarat keberhasilan suatu paragraph. Jika tidak ada kepaduan bentuk dan informasi, paragraf itu hanya merupakan kumpulan kalimat dan informasi, atau lebih baik tidak disebut sebagai paragraf.

B.       Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan paragraf?
  2. Bagaimana ciri-ciri paragraf yang baik?
  3. Penanda apa saja yang menandai hubungan antar kalimat?
  4. Ada berapa banyak macam pertalian makna dalam paragraf dan apa definisi dari masing-masing jenis?

C.      TujuanUntuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan paragraf.

  1. Untuk memaparkan ciri-ciri paragraf yang baik.
  2. Untuk menjelaskan penanda apa saja yang menandai hubungan antar kalimat
  3. Untuk menjelaskan berapa banyak macam pertalian makna dalam paragraf dan definisi dari masing-masing jenis.

D.      Manfaat

  1. Agar mahasiswa memahami apa yang disebut dengan paragraf.
  2. Agar mahasiswa mengetahui ciri-ciri paragraf yang baik.
  3. Agar mahasiswa mengetahui penanda apa saja yang menandai hubungan antar kalimat.
  4. Agar mahasiswa memahami jenis-jenis pertalian makna dalam kalimat beserta dengan definisi dan penggunaannya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      PENGERTIAN PARAGRAF

Sebuah paragraf (dari bahasa Yunani paragraphos, “menulis di samping” atau “tertulis di samping“) adalah suatu jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide. Awal paragraf ditandai dengan masuknya ke baris baru. Terkadang baris pertama dimasukkan; kadang-kadang dimasukkan tanpa memulai baris baru. Dalam beberapa hal awal paragraf telah ditandai oleh pilcrow (¶)1).

Dari sumber lain menyebutkan bahwa paragraf dijelaskan sebagai bagian dari suatu karangan atau tuturan yang terdiri atas sejumlah kalimat yang mengungkapkan suatu informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya2).

Sedangkan menurut Agepe dalam blognya menjelaskan bahwa paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam sebuah paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh kalimat dalam paragraph tersebut; mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan3).

Paragraf adalah bagian wacana yang mengungkapkan satu pikiran yang lengkap atau satu tema yang dalam ragam tulis ditandai oleh baris pertama yang menjorok ke dalam atau jarak spasi yang lebih (Alwi dalam Murtono, 2010 : 20)

B.       CIRI-CIRI PARAGRAF YANG BAIK

1.         Kepaduan Bentuk (Kohesi)

Suatu paragraf adalah kohesif apabila pada paragraf itu dioptimalkan pemakaian penanda-penanda hubungan antar kalimatnya. Adapun fungsi utamanya adalah memadukan hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Penanda hubungan antarkalimat itu mencakup lima hal, yakni:

1)   Hubungan penunjukkan

Yang dimaksud penunjukan ialah penggunaan kata atau frase untuk menunjukkan atau mengacu kata, frase atau mungkin juga satuan gramatikal yang lain. Dengan demikian, dalam penunjukan terdapat 2 unsur, yaitu unsure penunjukan (U Pen) dan unsur tertunjuk (U Ter).

  1. Penanda penunjukan itu.

Dalam hubungan endoforik, kata itu selalu menunjuk ke depan.

  1. Penanda penunjukan ini.

Berbeda dengan kata itu yang dalam hubungan endoforik selalu menunjuk ke depan, kata ini dapat menunjuk ke depan dan dapat juga menunjuk ke belakang.

  1. c.     Penanda penunjukan tersebut.

Kata tersebut berarti ‘sudah disebut’. Oleh karena itu, kata itu sering diikuti oleh frase di atas, di atas ini, atau di bawah, di bawah ini menjadi tersebut di atas, tersebut di atas ini, tersebut di bawah, tersebut di bawah ini. Di samping itu, kata tersebut juga berfungsi sebagai penanda penunjukan seperti halnya kata itu dan ini  yaitu sebagai penanda penunjukan yang menunjuk ke depan secara anaforik.

  1. d.    Penanda penunjukan berikut.

Kata berikut berfungsi menunjuk ke belakang secara kataforik. Kadang-kadang kata itu diikuti oleh kata ini yang juga berfungsi sebagai penanda penunjukan ke belakang menjadi berikut ini.

  1. e.     Penanda penunjukan tadi.

Kata tadi termasuk golongan kata keterangan yang menyatakan ‘waktu’. Misalnya dalam kalimat Tadi ia ada di sini, membaca majalah. Di samping itu, terutama dalam ragam bahasa percakapan, kata tadi juga digunakan sebagai penanda penunjukan yang menunjuk secara eksoforik.

2)   Hubungan penggantian

Penanda hubungan penggantian ialah penanda hubungan kalimat yang berupa kata, atau frase yang menggantikan kata, frase, atau mungkin juga satuan gramatikal lain yang terletak di depannya secara anaforik atau di belakangnya secara kataforik.

  1. Kata ganti persona sebagai penanda hubungan penggantian.

Kata ganti persona pertama, yaitu kata aku, saya, dan kita (inklusif) serta kata ganti persona kedua, yaitu kata-kata engkau, kamu, dan Anda beserta klitika nya ku, kau, dan mu, hanya dapat digunakan sebagai penanda hubungan pengganti dalam hubungan eksoforik.

  1. Kata itu dan ini sebagai penanda hubungan penggantian.

Di samping sebagai penanda hubungan penunjukan, kedua kata itu dapat juga berfungsi sebagai penanda hubungan penggantian, menggantikan kata, frase, atau mungkin juga satuan gramatikal yang lain, baik dalam hubungan eksoforik maupun endoforik.

  1. Kata sana, sini, dan situ sebagai penanda hubungan penggantian.

Ketiga kata itu termasuk golongan kata ganti tempat. Kata sana menggantikan tempat yang jauh dari pembicaraan dan lawan bicara, kata sini menggantikan tempat yang dekat dengan pembicara, dan kata situ menggantikan tempat yang dekat dengan lawan bicara. Di samping itu, juga menggantikan tempat yang tidak begitu jauh dari pembicara dan lawan bicara.

  1. Kata begitu, begini, dan demikian sebagai penanda hubungan penggantian.

Kata begitu, begini, dan demikian dapat berfungsi sebagai penanda hubungan penggantian dalam hubungan endoforik. Kata begitu dan demikian menggantikan ke depan, sedangkan kata begini menggantikan ke belakang.

3)   Hubungan pelesapan.

Penanda hubungan kalimat yang ketiga ialah pelesapan atau ellipsis. Yang dimaksud dengan pelesapan ialah adanya unsur kalimat yang tidak dinyatakan secara tersurat pada kalimat berikutnya. Sekalipun tidak dinyatakan secara tersurat, tetapi kehadiran unsur kalimat itu dapat diperkirakan.

4)   Hubungan perangkaian.

Penanda hubungan antarkalimat yang keempat adalah perangkaian. Yang dimaksud perangkaian di sini ialah adanya kata atau kata-kata yang merangkaikan kalimat yang satu dengan yang lain.

Penanda Hubungan Perangkaian

1 dan 22 selain daripada itu
2 lalu 23 di samping itu
3 kemudian 24 kecuali itu
4 tetapi 25 dengan itu
5 akan tetapi 26 meskipun begitu/demikian
6 namun 27 walaupun begitu/demikian
7 padahal 28 namun begitu/demikian
8 sebaliknya 29 jika begitu/demikian
9 bahkan 30 kalau begitu/demikian
10 malah 31 dengan begitu/demikian
11 apalagi 32 karenanya
12 sesudah itu 33 akibatnya
13 setelah itu 34 sesudahnya
14 sebelum itu 35 sebelumnya
15 sementara itu 36 dalam pada itu
16 ketika itu 37 dalam kaitan itu
17 waktu itu 38 akhirnya
18 karena itu 39 misalnya
19 sebab itu 40 antara lain
20 oleh sebab itu 41 contohnya
21 selain itu 42 jadi

5)   Hubungan leksikal

Hubungan leksikal ialah hubungan yang disebabkan oleh adanya kata-kata yang secara leksikal memiliki pertalian.

  1. Pengulangan

Yang dimaksud pengulangan di sini bukanlah proses reduplikasi yang merupakan salah satu proses morfologis, seperti kata rumah menjadi rumah-rumah, kereta menjadi kereta-keretaan, berjalan menjadi berjalan-jalan, melainkan pengulangan sebagai penanda hubungan antarkalimat, yaitu adanya unsur pengulangan yang mengulang unsur yang terdapat pada kalimat di depannya.

  • Pengulangan sama tepat

Yang dimaksud dengan pengulangan sama tepat ialah apabila unsur pengulang sama dengan unsur diulang, hanya pada umumnya unsur pengulang diikuti unsur penunjuk itu, ini, dan tersebut.

  • Pengulangan dengan perubahan bentuk

Kadang-kadang unsur pengulangan mengalami perubahan bentuk. Perubahan bentuk itu disebabkan oleh keterikatan tata bahasa, misalnya karena unsur diulang berupa kata kerja dan unsur pengulang harus berupa kata benda.

Perubahan-perubahan bentuk

Kata kerja bentuk d-i Menjadi kata benda bentuk -an
Kata kerja bentuk meng- Menjadi kata benda bentuk -nya
Kata kerja bentuk di-an Menjadi kata benda bentuk –peng-
Kata kerja bentuk meng- Menjadi kata benda bentuk -an
Kata kerja bentuk meng- Menjadi kata benda bentuk –peg-an
Kata kerja bentuk ber- Menjadi kata benda bentuk per-an
Kata sifat bentuk asal Menjadi kata benda bentuk ke-an
Kata sifat bentuk ter- Menjadi kata benda bentuk ke-an
Kata benda bentuk –peN-an Menjadi kata benda bentuk -peN

Perubahan-perubahan itu sebagian besar dari kata kerja atau kata sifat menjadi kata benda di samping dari kata benda menjadi kata benda.

  • Pengulangan sebagian

Yang dimaksud pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari unsur yang diulang.

  • Pengulangan parafrase

Parafrase ialah pengungkapan kembali suatu konsepsi dengan bentuk bahasa yang berbeda. Jadi pengulangan parafrase ialah pengulangan yang unsur pengulangnya berparafrase dengan unsur terulang.

  1. Sinonim

Sinonim sebenarnya juga merupakan pengulangan, hanya pengulangan dalam sinonim semata-mata pengulangan makna. Yang dimaksud sinonim di sini ialah satuan bahasa, khususnya kata atau frase, yang bentuknya berbeda tetapi maknanya sama atau mirip.

  1. Hiponim

Hiponim sama dengan sinonim, sebenarnya juga merupakan pengulangan, hanya dalam hiponim unsur pengulangan mempunyai makna yang mencakupi makna unsur pengulangan. Unsur hiponim yang mencakupi makna unsur yang lain disebut superordinat, dan unsur yang lain disebut subordinat.

2.         Kepaduan Makna (koherensi)

Suatu paragraf adalah koheren apabila informasi yang terdapat pada kalimat yang satu berhubungan erat dengan kalimat lainnya, keeratan hubungan antara kalimat-kalimat tersebut ditandai oleh penanda pertalian makna antarkalimat. Adapun pertalian makna antarkalimat dalam paragraf sedikitnya mencakup sepuluh macam, yakni:

  1. Pertalian Penjumlahan

Pertalian penjumlahan ditandai oleh penggunaan di samping itu, selain itu, selain daripada itu, kecuali itu, lagi pula dan lagi. Pertalian ini dapat juga disebut juga pertalian ‘pertambahan’.

  1. Pertalian Perurutan

Yang dimaksud pertalian perurutan ialah pertalian yang menyatakan bahwa peristiwa, keadaan, atau perbuatan berturut-turut terjadi atau dilakukan. Pertalian perurutan biasanya ditandai oleh penggunaan kata-kata lalu, kemudian. Kata dan kadang-kadang digunakan juga untuk menandai pertalian perurutan.

  1. Pertalian perlawanan atau pertentangan

Pertalian perlawanan ialah pertalian yang mempertentangkan suatu hal, keadaan, atau perbuatan dengan hal, keadaan, atau perbuatan lain, misalnya mempertentangkan hitam atau putih, besar dengan kecil, baik dengan buruk, rajin dengan malas, dan sebagainya. Hal yang dipertentangkan tidak selalu berlawanan, tetapi dapat juga hal yang berbeda, misalnya bekerja dengan tidur, hitam dengan merah, baru dengan tidak terawatt, pandai dengan malas, dan sebagainya. Pertalian perlawanan ditandai oleh penggunaan ungkapan sebaliknya, akan tetapi, tetapi, namun, padahal, walaupun begitu, walaupun demikian, meskipun begitu, meskipun demikian, dan sebagainya.

  1. Pertalian lebih

Penanda hubungan yang digunakan untuk menandai pertalian lebih ialah malah, malahan, apalagi, lebih-lebih, lagi dan kata bahkan.

  1. Pertalian Sebab – akibat

Terdapat pertalian sebab akibat apabila yang satu menytakan sebab atau alasan bagi kalimat yang lain yang merupakan akibatnya.  Pertalian sebab-akibat ditandai oleh ungkapan oleh karenanya, karena itu, oleh sebab itu, maka, akibatnya.

  1. Pertalian waktu

Terdapat pertalian waktu apabila kalimat yang satu menyatakan waktu terjadinya peristiwa atau dilaksanakannya suatu perbuatan yang tersebut pada kalimat lain. Pertalian waktu ditandai oleh ungkapan setelah itu, ketika itu, waktu itu, sesudah itu, sementara itu, sehabis itu, sebelum itu, sesudahnya, sebelumnya sejak itu, dan semenjak itu.

  1. Pertalian syarat

Pertalian syarat ialah pertalian yang menyatakan bahwa apa yang dinyatakan pada suatu kalimat menjadi syarat terlaksanakannya suatu perbuatan atau terjadinya suatu peristiwa yang dinyatakan pada kalimat lain. Pertalian syarat ditandai oleh ungkapan jika demikian, jika begitu, apabila demikian, apabila begitu, di samping dalam hal yang demikian.

  1. Pertalian cara

Pertalian cara menyatakan bagaimana suatu perbuatan itu dilaksanakan atau bagaimana suatu peristiwa itu terjadi. Pertalian cara ditandai oleh ungkapan dengan demikian, dengan cara demikian, dengan begitu, dengan cara begitu, dengan itu, dan dengan cara itu.

  1. Pertalian kegunaan

Yang digunakan pertalian kegunaan ialah pertalian yang menyatakan faedah atau tujuan, menjawab pertanyaan untuk apa. Pertalian kegunaan ditandai oleh ungkapan untuk itu.

  1. Pertalian penjelasan

Pertalian penjelasan ialah pertalian yang menyatakan bahwa informasi pada kalimat yang satu memberikan penjelasan atau keterangan lebih lanjut bagi informasi yang dinyatakan pada kalimat lainnya. Pertalian penjelasan yang berupa keterangan dan rincian cenderung tidak ditandai dengan penanda hubungan, sedangkan yang berupa missal ditandai dengan penanda hubungan misalnya atau contohnya. Ada juga yang ditandai dengan penanda hubungan antara lain.

BAB III

PENUTUP

 A.           Kesimpulan

 Paragraf adalah suatu jenis tulisan yang memiliki tujuan atau ide, yang terdiri atas sejumlah kalimat yang mengungkapkan suatu informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya.

Suatu paragraf adalah kohesif apabila pada paragraf itu dioptimalkan pemakaian penanda-penanda hubungan antar kalimatnya. Adapun fungsi utamanya adalah memadukan hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya.

Sedangkan suatu paragraf dikatakan koheren apabila informasi yang terdapat pada kalimat yang satu berhubungan erat dengan kalimat lainnya, keeratan hubungan antara kalimat-kalimat tersebut ditandai oleh penanda pertalian makna antarkalimat. Adapun pertalian makna antarkalimat dalam paragraf sedikitnya mencakup sepuluh macam, yakni: pertalian penjumlahan, pertalian perurutan, pertalian perlawanan atau pertentangan, pertalian lebih, pertalian sebab-akibat, pertalian waktu, pertalian syarat, pertalian cara, pertalian kegunaan, dan pertalian penjelasan.

  1. B.            Saran

Untuk membuat sebuah paragraf, hendaklah kita memperhatikan kepaduan antar kalimat yang satu dengan yang lain. Baik itu kepaduan bentuk maupun kepaduan makna.

DAFTAR PUSTAKA

 

Murtono. 2010. Menuju Kemahiran Berbahasa Indonesia. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Agepe. 2008. Paragraf dan Pengembangannya. Tersedia di http://goesprih.blogspot.com/ Diunduh pada tanggal 29 Februari 2012.

Fathi Al-Qadri. 2009. Paragraf. Tersedia di http://kemassamawimultiproduction.blogspot.com/ Diunduh pada tanggal 29 Februari 2012.

Plurr. 2011. Paragraf. Tersedia di http://materiindonesia.blogspot.com/ Diunduh pada tanggal 29 Februari 2012.

Wikipedia Bahasa Indonesia. 2011. Paragraf. Tersedia di http://id.wikipedia.org/ Diunduh pada tanggal 29 Februari 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: